Sejarah Kota Berastagi dari Desa Pertanian hingga Kota Wisata Terkenal
Pendahuluan
Kota Berastagi merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di Sumatera Utara yang terletak di Kabupaten Karo. Berada di dataran tinggi dengan udara sejuk dan pemandangan pegunungan yang indah, Berastagi menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun luar daerah, terutama dari Kota Medan. Namun sebelum dikenal sebagai kota wisata seperti sekarang, Berastagi memiliki sejarah panjang yang bermula dari desa pertanian sederhana hingga berkembang menjadi pusat pariwisata dan perdagangan di dataran tinggi Karo.
Sejarah Berastagi tidak terlepas dari kehidupan masyarakat suku Karo, masa kolonial Belanda, perkembangan pertanian, pembangunan infrastruktur, hingga berkembangnya sektor pariwisata. Artikel ini akan membahas sejarah Kota Berastagi secara lengkap mulai dari asal-usul nama, kehidupan masyarakat zaman dahulu, masa kolonial Belanda, perkembangan pertanian, hingga Berastagi menjadi kota wisata terkenal seperti sekarang.
Asal Usul Nama Berastagi
Nama Berastagi berasal dari bahasa Karo, yaitu dari kata “beras” dan “tagih” atau dalam pengertian lain tempat berkumpul atau tempat pengumpulan beras. Pada zaman dahulu, daerah Berastagi merupakan tempat masyarakat dari desa-desa sekitar membawa hasil pertanian terutama beras untuk dikumpulkan, ditukar, atau diperdagangkan.
Berastagi dulunya merupakan pusat perdagangan hasil pertanian masyarakat Karo. Masyarakat dari desa sekitar seperti Kabanjahe, Lingga, Surbakti, dan desa lainnya datang ke Berastagi untuk menjual hasil bumi seperti:
- Beras
- Jagung
- Sayur-sayuran
- Buah-buahan
- Kopi
- Rempah-rempah
Dari aktivitas perdagangan inilah nama Berastagi semakin dikenal sebagai pusat perdagangan hasil bumi di dataran tinggi Karo. Hingga saat ini, tradisi perdagangan tersebut masih bisa dilihat di Pasar Buah Berastagi yang menjadi salah satu ikon wisata Berastagi.
Berastagi Zaman Dahulu: Desa Pertanian di Dataran Tinggi Karo
Sebelum menjadi kota wisata, Berastagi merupakan daerah pertanian yang sangat subur. Tanah di dataran tinggi Karo sangat cocok untuk pertanian karena:
- Tanah vulkanik yang subur
- Udara sejuk
- Curah hujan cukup
- Sinar matahari cukup
- Banyak sumber air dari pegunungan
Masyarakat Karo sejak dahulu terkenal sebagai petani yang menanam berbagai hasil pertanian seperti:
- Kol
- Wortel
- Kentang
- Tomat
- Cabai
- Jagung
- Jeruk Berastagi
- Markisa
- Stroberi
- Bunga dan tanaman hias
Hasil pertanian dari Berastagi tidak hanya dijual di daerah sekitar, tetapi juga dikirim ke Kota Medan bahkan ke luar daerah. Karena itu Berastagi sejak dulu sudah dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan buah di Sumatera Utara.
Kehidupan masyarakat pada zaman dahulu masih sangat sederhana. Rumah-rumah tradisional suku Karo masih banyak ditemukan, terutama di Desa Lingga yang hingga sekarang masih menjadi desa wisata budaya Karo.
Berastagi pada Masa Kolonial Belanda
Perkembangan Berastagi mulai berubah ketika masa kolonial Belanda sekitar awal tahun 1900-an. Belanda melihat bahwa daerah Berastagi memiliki:
- Udara yang sejuk
- Pemandangan gunung yang indah
- Tanah subur
- Cocok untuk perkebunan dan pertanian
- Cocok sebagai tempat peristirahatan orang Belanda
Karena itu Belanda mulai membangun berbagai fasilitas di Berastagi seperti:
- Jalan Medan – Berastagi
- Villa dan rumah peristirahatan
- Hotel
- Perkebunan
- Pasar
- Fasilitas umum
Pada masa itu, Berastagi dijadikan sebagai tempat peristirahatan orang Belanda karena udara di Berastagi lebih sejuk dibandingkan Kota Medan yang panas. Berastagi pada zaman Belanda mirip seperti:
- Puncak di Bogor
- Lembang di Bandung
- Batu di Malang
Beberapa bangunan peninggalan Belanda masih ada hingga sekarang, terutama di sekitar Berastagi dan Kabanjahe.
Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung dalam Sejarah Berastagi
Berastagi sangat terkenal karena berada di antara dua gunung berapi yaitu:
- Gunung Sibayak
- Gunung Sinabung
Gunung Sibayak sejak dahulu sudah menjadi tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat Karo. Selain itu Gunung Sibayak juga memiliki:
- Kawah belerang
- Air panas
- Pemandangan indah
- Tempat pendakian
Sedangkan Gunung Sinabung merupakan gunung berapi aktif yang beberapa kali meletus dan menjadi bagian penting dalam sejarah Berastagi dan Kabupaten Karo. Letusan Gunung Sinabung pernah menyebabkan banyak desa harus direlokasi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar.
Meskipun demikian, keberadaan gunung ini juga membuat tanah di Berastagi menjadi sangat subur karena tanah vulkanik sangat baik untuk pertanian.
Perkembangan Berastagi Setelah Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, Berastagi terus berkembang sebagai daerah pertanian dan perdagangan. Jalan dari Medan ke Berastagi semakin baik sehingga banyak orang dari Medan datang ke Berastagi untuk:
- Liburan
- Membeli buah dan sayur
- Menikmati udara sejuk
- Menginap di villa
- Berwisata alam
Mulai dari sinilah Berastagi berkembang menjadi kota wisata. Banyak hotel dan villa mulai dibangun, tempat wisata mulai dikembangkan, dan pasar buah semakin ramai.
Berastagi sebagai Kota Wisata
Saat ini Berastagi dikenal sebagai salah satu kota wisata utama di Sumatera Utara. Banyak wisatawan datang ke Berastagi karena:
- Udara sejuk
- Pemandangan gunung
- Banyak tempat wisata
- Banyak villa dan hotel
- Dekat dari Medan
- Banyak kuliner
- Banyak oleh-oleh
- Cocok untuk liburan keluarga
Tempat wisata terkenal di Berastagi antara lain:
- Bukit Gundaling
- Pasar Buah Berastagi
- Taman Alam Lumbini
- Gunung Sibayak
- Air Panas Sidebuk Debuk
- Bukit Kubu
- Desa Lingga
- Air Terjun Sipiso-piso
- Gundaling Farmstead
- Mikie Funland
Berastagi juga sering menjadi tujuan wisata saat:
- Libur sekolah
- Tahun baru
- Lebaran
- Natal
- Akhir pekan
Pasar Buah Berastagi sebagai Ikon Kota
Pasar Buah Berastagi merupakan salah satu ikon paling terkenal di Berastagi. Di pasar ini wisatawan bisa membeli:
- Jeruk Berastagi
- Markisa
- Stroberi
- Alpukat
- Terong Belanda
- Sayur-sayuran
- Bunga
- Oleh-oleh khas Berastagi
Pasar Buah Berastagi sudah ada sejak lama dan menjadi pusat perdagangan hasil pertanian masyarakat Karo hingga sekarang.
Villa dan Hotel di Berastagi
Seiring berkembangnya pariwisata, banyak villa dan hotel dibangun di Berastagi. Banyak wisatawan yang datang berkelompok atau bersama keluarga memilih menginap di villa karena:
- Bisa untuk banyak orang
- Ada dapur
- Ada halaman
- Pemandangan gunung
- Lebih nyaman untuk rombongan
Hotel di Berastagi juga sangat banyak mulai dari hotel murah hingga hotel berbintang.
Kuliner Khas Berastagi
Selain wisata alam, Berastagi juga terkenal dengan kuliner khas seperti:
- Jagung bakar
- Bandrek
- Jagung rebus
- Mie khas Karo
- Babi panggang Karo
- Terong belanda
- Markisa
- Jeruk Berastagi
- Stroberi
- Kopi Karo
Banyak wisatawan datang ke Berastagi juga untuk wisata kuliner.
Berastagi Sekarang
Saat ini Berastagi telah berkembang menjadi:
- Kota wisata
- Kota pertanian
- Pusat perdagangan hasil bumi
- Daerah villa dan hotel
- Destinasi liburan favorit di Sumatera Utara
Berastagi menjadi salah satu tujuan wisata paling ramai di Sumatera Utara setelah Danau Toba.
Kesimpulan
Sejarah Kota Berastagi bermula dari desa pertanian sederhana yang menjadi pusat perdagangan beras dan hasil bumi masyarakat Karo. Pada masa kolonial Belanda, Berastagi berkembang menjadi tempat peristirahatan karena udara sejuk dan pemandangan yang indah. Setelah kemerdekaan Indonesia, Berastagi berkembang menjadi kota pertanian dan akhirnya menjadi kota wisata terkenal seperti sekarang.
Dengan udara sejuk, pemandangan gunung, hasil pertanian melimpah, serta banyak tempat wisata, Berastagi menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sumatera Utara yang terus berkembang hingga saat ini.
Belum ada komentar yang tampil. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu.